Senin, 08 Desember 2008

Pelacuran via Friendster

Pelacuran via internet kini menjadi trend bisnis prostitusi. Tak sedikit yang menjajakan dirinya dengan mendompleng situs pertemanan Friendster tanpa ada yang mengkoordinir, yang jumlahnya makin hari makin bertambah.

Di situs Friendster saja, kami melacak jumlahnya ada puluhan dan mungkin juga ratusan, itupun khusus yang Indonesia saja dan tepatnya lokasinya Jabotabek.

Banyak juga yang dikelola oleh seorang germo. Para pelacur muda kini bukan hanya dipajang di etalase, tapi juga lewat cyber sex yang dikelola mucikari.

Contohnya, bisnis prostitusi dunia maya atau cyber sex yang dikelola mucikari, dibongkar aparat Satuan Unit Cyber Crime Dirkrimsus Polda Metro Jaya senin lalu (17/11). Albert Timothius, 27, sang germo yang mengelola website dengan nama domain www.wanita18theclub.com dicomot polisi.

Tiga cewek asuhan Albert yang dijajakan via internet diamankan petugas dari Hotel As di kawasan Mangga Besar, Jakbar, namun setelah dimintai keterangan ketiganya dipulangkan. “Mereka hanya diperiksa sebagai saksi,” jelas Direktur Krimsus Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raja Erisman, Selasa (18/11).

Cewek-cewek yang ditawarkan Albert berusia 18 hingga 20 tahun. Dia merekrut para pelacur juga lewat dunia maya, melalui chatting dengan cewek-cewek yang senang internet. Dari chatting inilah lalu Albert mulai memilih mana yang bisa dijadikan pelacur.

Pelacur yang bergabung dengan Albert ada sekitar 30 orang, foto-foto mereka dipasang secara bergantian. Di layar situs itu terpampang 10 cewek berpenampilan seronok, masing-masing diberi kode sesuai dengan tarifnya. Beda wajah, beda usia beda pula tarifnya. Usia dan paras cantik, apalagi berstatus mahasiswi tarifnya lebih tinggi. Rata-rata pelacur asuhan Albert adalah wanita lokal.

Tarifnya, paling murah Rp800 ribu ada juga yang mencapai Rp1,6 juta untuk tiga jam kencan. Harga itu diluar biaya hotel yang ditanggung sendiri oleh pengguna. Dari tarif itu pelacur mendapat 60 persen dari pembayaran, 40 persen untuk germo. Umumnya pengguna ‘jasa’ anak buah Albert adalah orang-orang berduit.

DAFTAR SEBAGAI MEMBER

Untuk memboking pelacur anak buah Albert, tak sembarangan. Peminat harus mendaftar menjadi member dengan mengisi ‘formulir’ di situs yang disediakan, lengkap dengan biodata dan nomor telepon yang bisa dihubungi, serta kode cewek yang dipesan.

“Setelah data dikirim lewat email, konsumen akan dihubungi,” kata Kasat Cyber Crime, AKBP Tomy Watiliu.

Pelacur yang dipesan akan diantar oleh anak buah Albert ke tempat yang ditunjuk oleh lelaki yang memesannya, biasanya di Hotel As. Transaksi langsung terjadi, uang diberikan kepada germo, si pelacur langsung dibawa oleh pemesannya.

Albert membuka situs tersebut sejak tahun 2005, namun dia baru mengelolanya menjadi situs pelacuran mulai tahun 2007. Tersangka mengaku sejak dulu sering ke kawasan Mangga Besar namun belum pernah menjadi mucikari.

Untuk menangkap Albert polisi membutuhkaan waktu tiga bulan karena keberadaanya tak di satu tempat, namun kemana-mana selalu membawa laptop untuk korespondensi dengan kliennya. “Tiga kali kami melakukan transaksi, kali yang ke empat baru berhasil,” ungkap Tomy Watiliu.

Albert akhirnya bisa dibekuk di Hotel As, saat akan menyerahkan cewek asuhannya ke pemesan. ia dijerat dengan pasal 296 dan 50 KUHP tentang prostitusi dengan hukuman maksimal dua tahun penjara.

Menurut Raja Erisman, pihaknya kini masih menyelidiki situs lainnya yang menjadi ajang pelacuran di dunia maya. Dia mengakui situs internet yang dijadikan mucikari untuk menawarkan pelacur bisa jadi jumlahnya ratusan, namun identitas pemiliknya lebih banyak palsu sehingga sulit dilacak. (poskota)

Tidak ada komentar: